Bupati Michael Thungari Luncurkan Aplikasi Santer-TB, Perkuat Upaya Eliminasi Tuberkulosis di Sangihe

Share to

Loading

SANGIHE, Bintang Nusa Utara.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe resmi meluncurkan aplikasi Santer-TB (Sistem Akselerasi Nusantara Tangguh Eliminasi Tuberkulosis) sebagai inovasi digital untuk memperkuat percepatan penanggulangan tuberkulosis (TB) di daerah.

Peluncuran proyek perubahan tersebut dibuka oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, dan dihadiri Sekretaris Daerah, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tenaga kesehatan, serta para pemangku kepentingan yang terlibat dalam program pengendalian TB.

Dalam laporan panitia yang disampaikan Dinas Kesehatan Daerah, dijelaskan bahwa tuberkulosis masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius. Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia dengan beban kasus TB tertinggi setelah India.

Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, pada tahun 2024 tercatat sebanyak 2.489 orang terduga TB yang diperiksa. Sementara pada tahun 2025 terdapat 2.410 orang terduga TB yang menjalani pemeriksaan dan berhasil ditemukan 547 kasus TB, mendekati target estimasi insiden sebanyak 566 kasus. Adapun angka keberhasilan pengobatan pada tahun 2025 mencapai 87,9 persen, masih berada di bawah target nasional sebesar 90 persen.

Melalui aplikasi Santer-TB, pemerintah daerah berharap proses penemuan kasus, pemantauan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, hingga pencatatan dan pelaporan program TB dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan terintegrasi.

Dalam sambutannya, Bupati Michael Thungari menegaskan bahwa TB masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar yang harus ditangani secara serius meskipun penyakit tersebut dapat dicegah dan disembuhkan.

“TB adalah penyakit yang tidak bisa kita lihat secara kasat mata. Karena itu diperlukan pendataan yang baik agar kita mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan. Melalui aplikasi ini kita ingin mempermudah proses pendataan sekaligus pemantauan pasien,” ujar Thungari.

Ia menjelaskan, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TB adalah kepatuhan pasien menjalani pengobatan selama enam bulan.

Banyak pasien menghentikan konsumsi obat ketika merasa sudah sembuh, sehingga berpotensi menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap obat dan memperberat proses penyembuhan.

“Melalui aplikasi ini kita bisa memantau pasien agar menyelesaikan pengobatan sampai tuntas. Ini penting untuk mencegah resistensi obat dan memutus rantai penularan,” katanya.

Bupati juga meminta para tenaga kesehatan, kader, serta seluruh pengguna aplikasi agar menginput data secara disiplin dan akurat. Menurutnya, secanggih apa pun sebuah aplikasi tidak akan memberikan manfaat apabila data yang dimasukkan tidak lengkap dan tidak diperbarui secara rutin.

“Keberhasilan aplikasi ini bergantung pada kedisiplinan kita dalam menginput data, memantau pasien, dan melaporkan perkembangan hingga pasien dinyatakan sembuh,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Bupati Michael Thungari menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang selama ini berada di garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Ia berharap kehadiran aplikasi Santer-TB menjadi langkah nyata Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe dalam mendukung target nasional eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030 sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. (e’Q)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *