![]()
SANGIHE, BintangNusaUtara.com – Bursa calon Sekretaris Umum BPMS Sinode GMIST periode 2026-2031 mulai memanas. Satu nama yang manuvernya paling progresif: Pdt. Dr. Hendro Dededaka, M.Th., Kons.
Bukan sekadar mencalonkan diri, Ketua BAMAG Sangihe itu datang dengan tawaran yang selama ini jadi titik lemah GMIST: Good Governance Gereja.
Dengan jargon Sangihe yang kuat, “I Kite Su Pato Senggesa – Torang Semua Satu Perahu”, Dededaka membidik isu sensitif yang jarang disentuh kandidat lain: tata kelola organisasi yang profesional, transparan, dan modern.
Kenapa Namanya Mencuat?
Di tengah dinamika pemilihan yang rawan pecah, Dededaka punya modal yang tidak dimiliki kandidat karbitan:
1. Modal Akademik dan Konflik Management: Lulusan S1-S2 UKIT, S3 IAKN Manado, plus Profesi Konselor Psikospiritual AKPIN. Ini penting. GMIST butuh Sekum yang bukan hanya bisa berkhotbah, tapi mampu jadi mediator konflik internal jemaat dan penataan SDM pelayan.
2. Rekam Jejak Inovasi, Bukan Wacana: Dia bukan pendatang baru. Produk pelayanannya nyata dipakai jemaat: Buku Khotbah & Renungan MERCUSUAR, desain PIN Pelayan Khusus & bros pendeta, hingga kurikulum bahan ajar GSM dan pembina remaja. Ini bukti kerja sistematis, bukan janji kampanye.
3. Kombinasi Gereja dan Budaya: Sebagai Ketua BPMJ GMIST Siloam Mahena, ia terbukti mendorong pelestarian budaya lokal – lomba masamper, liturgi bahasa daerah Sangihe, hingga riset disertasi tentang kearifan lokal mesesakaeng. Visi SMART dan terintegrasi yang ia tawarkan menyatukan iman dan identitas lokal.
Pengamat internal GMIST menilai, konsep SMART, Modern, Terintegrasi yang diusung Dededaka adalah jawaban atas tantangan GMIST 5 tahun ke depan. Sinode dengan ratusan jemaat ini butuh sistem digitalisasi data, pelaporan keuangan yang akuntabel, dan pembinaan pelayan yang terstandar – bukan lagi dikelola secara manual dan sentralistik.
“GMIST tidak butuh sekadar administrator, tapi seorang arsitek pelayanan. Sosok Sekum harus mampu membawa GMIST dari pelayanan konvensional menuju tata kelola yang terukur,” ujar salah satu Pelayan Khusus di Tahuna yang enggan disebut namanya.
Kini pertanyaannya: Beranikah pemilih di Sidang Sinode nanti memilih perubahan? Dengan semboyan penutupnya, “Maning mapahia u pulangeng, kai su pato we senggesa” – Mari bersama dalam satu perahu, kita satu hati – Dededaka mengirim pesan jelas: Persatuan GMIST hanya bisa dicapai lewat sistem yang adil dan profesional, bukan lewat politik pecah belah.
Pemilihan BPMS, P2HKP dan Perangkat Pelayanan Sinodal GMIST 2026-2031 akan menjadi ujian: tetap di zona nyaman atau berlayar dengan perahu baru. (e’Q)


